Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Celoteh

Ketika Mudik lebaran pun dilarang

Selama ini ada satu moment yang tak pernah terlupa, tak pernah terlewat, apapun halangan yang menghadang, rela berkorban harta, waktu dan tenaga, moment itu bernama "MUDIK" saat Lebaran. Mudik saat lebaran adalah ritual sakral yang seakan-akan "wajib hukumnya dan berdosa jika tidak dilaksanakan". Dan tiba-tiba, karena sesuatu yang namanya ga usah disebut - you know who - 😜, ritual ini tiba-tiba berubah hukumnya menjadi mendekati haram dan terlarang untuk dilakukan, setidaknya itulah yang terjadi tahun 2020 dan 2021. Sebenernya kenapa sih kita selalu mudik saat lebaran, dibela-belain booking tiket jauh-jauh hari udah gitu mahal pula, harus nyiapin angpau buat krucil2, menghadapi pertanyaan-pertanyaan kepo yang we don't even know the answer 😅. Kita yang biasanya berhitung dengan cermat agar tidak tidak besar pasak daripada tiang tiba-tiba kalap dan menghabiskan seluruh tabungan untuk membeli tiket selangit dan keperluan mudik lainnya. Why do we do that?  Tentun...

New Year, New Hope?, unpredictable future?

 Apakabar 2021? Mengalami badai pandemi yang menyerang tanpa ampun sepanjang tahun 2020, entah apa yang bisa kita harapkan di tahun 2021 ini. Kalau diingat-ingat, dulu saat virus muncul pada Desember 2019 di Wuhan, China, waktu itu namanya masih  flu wuhan  sampai adegan penjemputan Mahasiswa Indonesia Februari 2020, waktu itu belum menyangka kalau wabah ini bakal menyebarkan horror ke seluruh penjuru dunia dan memakan banyak korban. Flu Wuhan kemudian berubah menjadi 2019-nCov (novel corona virus), agar tidak diasosiasikan dengan satu wilayah -walaupun sebenarnya sudah bukan rahasia lagi- dan di awal tahun 2020, WHO memberikan nama resmi yaitu Covid-19 (Corona Virus Disease-2019).  Dunia di era borderless world, era revolusi industri 4.0 dengan AI nya, dengan segala kemajuan teknologinya termasuk dunia medis, dibuat tak berdaya.  Tak nampak tapi nyata, siap menyerang siapa saja dengan strategi yang berbeda-beda. Ibarat hantu, semua bisa ketempelan, ada yan...

A thought #pilih yang mana? #pilpres 2019

Bahkan saat H-1 saya masih belum tahu mau pilih yang mana. Pada dasarnya saya termasuk bagian yang tidak begitu concern tentang pemilu. Sejak dimulainya pemilihan langsung tahun 2004, sampai dengan tahun 2014 saya hanya berpartisipasi alakadarnya. Terus terang beberapa diantaranya saya tidak menggunakan hak pilih saya (karena sudah terprediksi pemenang telak, jadi saya merasa suara saya jd ga penting :D). Pemilu-pemilu tersebut bisa dibilang membanggakan karena bisa terselenggara dengan damai dan demokratis. Tahun 2019 ini saya merasa agak khawatir, kok rasanya kampanye dua kandidat ini telah menciptakan semacam gempa yang membuat bumi Indonesia beserta orang-orang diatasnya terbelah jadi dua dipisahkan oleh jurang yang lumayan lebar jaraknya. Sisi positifnya si, karena kekhawatiran tersebut saya jadi lumayan peduli pada pelaksanaan pemilu 2019 ini. Saya ikut nonton debat-debatnya. Saya juga mau repot untuk menggali informasi tentang track record, visi, kecenderungan ideologi, etik...

Balada Boredom #Bosan

Pernah ngerasain kebosanan tingkat dewa ga si? pernah kaaann??? pasti pernah lah yaaa *maksa Pada suatu hari, saya dalam situasi yang sangat sulit yaitu merasa bosan pake banget. Untung saya cepat sadar kalau lagi bosan, jadi saya searching-searching di internet tentang kebosanan. Ceritanya nyari teman gitu ... Rujukan pertama tentunya adalah situs yang biasanya otomatis saya buka pertamakali ...wikipedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Boredom. Dari wikipedia ini saya bisa mendapatkan segala irformasi tentang kebosanan, mulai dari definisi, penyebab, hingga ringkasan pendapat dan penelitian tentang perilaku kebosanan. Selanjutnya saya terutama tertarik pada 2 tulisan. Yang pertama adalah  https://www.livescience.com/41725-new-boredom-discovered.html . Tulisan ini melihat dari sisi psikologis dengan menklasifikasikan tanda-tanda dan tipe-tipe kebosanan. Terdapat 5 tipe kebosanan yang diperoleh berdasarkan penelitian terhadap 63 Mahasiswa dan 80 murid SMA di Jerman. Masing-...

Menuju Ibu Ibu

Akhir-akhir ini saya sering mengalami kejadian yang bikin saya menghela nafas. Kejadian itu bisa terjadi kapan saja, misalnya saat saya membeli makan, saat antri di kasir supermarket, saat dibukain pintu oleh satpam di sebuah bank, saat bertemu dengan mahasiswa magang di kantor dan banyak saat-saat lainnya. Awalnya kejadian tersebut membuat saya berada dalam posisi - on denial - dengan ekspresi mata terbelalak, mulut mangap, kening berkerut. Walaupun begitu pada akhirnya saya bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Ternyata memang dibutuhkan kesiapan mental dan keberanian yang tinggi untuk menerima sebuah kenyataan. Jadi begini ceritanya. Pada saat-saat yang saya sebutkan diatas, kasir supermarket, satpam bank, penjual makanan, mahasiswa magang, semuanya itu manggil saya dengan panggilan "Bu". Trus masalahnya dimana? Kenapa kok pake menghela nafas segala? Rupanya ibu satu ini masih belum move on dari ke -mbak/ kakak- annya. Jadi pas dipanggil "Bu" merasa ngg...

"Culture shock" yang bikin senyum simpul

Gara-gara perbincangan dengan teman-teman di Jakarta tentang kloset yang mampet, saya jadi ingat beberapa hal kecil -yang bisa dianggap tidak penting- yang dilakukan dengan cara yang berbeda antara di Indonesia dan di negeri Raja Willem-Alexander ini. Ini bukan benat-benar culture shock yang susah diterima sih, paling-paling hanya memerlukan kernyitan di dahi, bahkan bisa menghasilkan senyum simpul atau kalo enggak minimal menghasilkan kata :"oooooo" dalam hati ;) 1. Saat masuk ke toilet di Tanah Air, anda akan menemui tulisan dengan huruf Bold Capital bertuliskan "DILARANG MEMBUANG TISU KE DALAM KLOSET' iya kan? Anehnya, di negeri kincir angin ini, setelah digunakan tisu akan dibuang ke dalam kloset untuk kemudian disiram. Teman saya bahkan punya pengalaman saat dia datang pertama kali ke Belanda berombongan dalam rangka menghadiri sebuah seminar di sebuah Universitas, mereka sempat di protes oleh petugas kebersihan. Alasannya, tempat sampah di toilet me...

Demokrasi oh demokrasi

Akhir-akhir ini semua media dan orang Indonesia yang saya temui ramai membicarakan keputusan Legislatif tentang perubahan pemilihan kepala daerah dari pemilihan langsung menjadi tidak langsung. Mayoritas, well, bisa dibilang hampir semua tidak setuju dengan keputusan ini. Mayoritas, lagi-lagi, hampir semua berargumen: 1. ini pembunuhan demokrasi namanya 2. demokrasi di Indonesia selangkah lebih mundur 3. ini menghidupkan orde baru lagi namanya 4. ini pasti gara-gara barisan yang sakit hati yang kalah pilpres Pendapat massive dan lebih ramai lagi beredar di dunia maya (baca: facebook dan twitter). Yang paling populer adalah penggalangan komunitas untuk membully presiden sendiri gara-gara partai sang presiden 'walkout' saat pengambilan keputusan yang mengakibatkan partai koalisi pendukung pemilihan kepala daerah tidak langsung MENANG. Saya sendiri awalnya tidak terlalu peduli dengan hal ini, tapi lama-lama saya jadi terpengaruh dan ikut kepikiran juga hehe... Saya bukanny...

Rajin pangkal pandai

Istilah rajin pangkal pandai sangat familiar bagi kita, terutama yang mengalami masa-masa sekolah dasar (SD) seperti saya dulu dimana semua buku pelajaran harus diberi sampul warna coklat bertuliskan kata-kata bijak. Kadang satu sampul bertuliskan -rajin pangkal pandai-. Sampul lain bertuliskan -malas pangkal bodoh- atau -hemat pangkal kaya- dan lain sebagainya. Anyway, saya tidak ingin membahas sampul-sampul coklat tersebut. Hanya saja saat ini saya mengalami masa-masa yang membuat saya kemudian mengingat kembali istilah-istilah tersebut. Akhir-akhir ini saya benar-benar dibuat pusing dan gelisah dengan pelajaran kuliah saya. Banyak sekali pelajaran yang saya terima dan tidak mampu saya mengerti. Tentu saja saya sudah berusaha mengamalkan -rajin pangkal pandai- yang sudah saya yakini sejak masa sekolah. Tak ketinggalan pesan-pesan motivator untuk selalu berfikir positif dan tak pernah menyerah juga sudah diamalkan, seoptimal mungkin tentunya. Hanya saja, menjadi rajin itu susa...

I am Indonesian, I speak Indonesian

Saat pelajaran berlangsung, seorang mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah di Belanda bernama “Ai” mengetahui bahwa orang yang duduk di sebelahnya berasal dari Suriname. Sudah lama Ai penasaran dengan negara yang terletak di Amerika Selatan itu karena konon banyak  warganya yang berasal dari Indonesia (Jawa khususnya-tempat Ai dilahirkan).  Mulailah Ai menyapa orang di sebelahnya: Ai :  "Hi, my name is Ai, I come from Indonesia. Do you come from Suriname"? As : "Hi, my name is As" Ai : "I heard that a lot of Surinam are initially come from Indonesia and speak Javanese".         "Do you speak Javanese?" (setengah memaksa, pdhl tuch Surinamese berwajah India          banget) As : "Yes, you right, a lot of Surinamese speak Javanese, but unfortunatelly I’m not part of           them" Ai : (walaupun udah nyangka sebelumnya, tetap merasa kecewa :D) As : As melanjutkan. "Our country i...

MIMPI......

Hari itu, jam 16.30WiB, pulang kerja ada kerusuhan di perempatan Thamrin. Ada beberapa polisi berjaga bersenjata lengkap. Dari arah timur datang berlarian para pendemo. Berkobar api, entah apa yang dibakar. Aku ketakutan dan kembali ke kantor, gak jadi pulang. Di kantor aku bertemu ponakan yang baru berumur setahun. Kenapa tiba-tiba jadi ada keponakanku disini? Entahlah…. Itulah mimpiku pagi ini J Selamat pagi kawan….  

grafologi... Mengubah tulisan tangan dengan sengaja untuk merubah karakter. Bisakah?

Dalam majalah intisari edisi bulan Februari, dibahas tentang Grafologi (ilmu yang mempelajari tulisan tangan). Tulisan yang dijadikan contoh pembahasan adalah tulisan bung Karno. Dalam tulisan tangan Bung Karno, baik saat penulisan naskah proklamasi maupun tulisan tangan beliau untuk hal-hal yang sifatnya pribadi, digambarkan Bung Karno memiliki semangat untuk maju ke depan ditandai dengan tulisannya yang miring ke depan. Disamping itu beliau juga orang yang percaya diri, ditandai dengan ‘t’ bar (garis tengah huruf  t) nya berada diatas huruf vokal walaupun percaya diri ini terkadang tidak konsisten karena di beberapa tulisannya terdapat ‘t’ bar lebih rendah dari huruf vocal. Sampai dsini aku kemudian membandingkan dengan tulisan  tanganku.…. aiihhh…, ternyata tulisan tanganku cenderung  condong ke belakang. N lagi huruf ‘t’ ku… ya ampyuunnn… garis ditengahnya benar-benar nyungsep lebih tendah dari huruf vocal. Jika dianalog kan dengan analisis diatas, apakah bera...

Kehilangan di Awal Tahun

Namanya kehilangan, tak pernah enak rasanya. Apalagi kalo sesuatu yang hilang adalah satu-satunya dan nggak ada ‘serep’nya.... Memasuki tahun 2012, hasil kesepakatan dengan beberapa teman, bukan dengan pesta kembang api, bukan bakar-bakaran di taman, bukan pula midnight sale di pusat perbelanjaan. Kali ini kita merayakan pergantian tahun dengan sederhana dan khidmat di Sebuah masjid sebuah Bank dipusat kota Jakarta. Oleh penyelenggara, acara dikemas dalam bentuk mabit (menginap) , dengan rangkaian acara dimulai dari sholat isya berjama’ah, ceramah, sholat malam berjam’ah, dzikir, diakhiri sholat subuh berjama’ah plus kuliah subuh. Walaupun bunyi terompet dan kemeriahan kembang api bukannya tidak terdengar, karena Monumen Nasional, salah satu titik perayaan warga Jakarta hanya berjarak 300 meter dari tempat ini. Pembicara dalam acara ini adalah Salim A. Fillah. Ya..., ini adalah salah satu point menariknya. Sebagai pembaca segala macam buku, kebetulan aku mengenal buku-buk...